Catatan di Tepi Dermaga: Mengabadikan Pulaumu, Hari Jadi Kita, dan Rindu

Ada hari-hari di mana dada ini rasanya terlalu sempit untuk menampung semua ingatan. Hari ini adalah salah satunya. Sebuah tanggal yang dulu kita sambut dengan debar bahagia, kini berganti menjadi sebuah ruang sunyi yang begitu menyengat. Tadi, saat jemariku mengetik baris demi baris kalimat untuk status itu, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menangis sesenggukan, bukan karena aku ingin meratapi apa yang telah usai, melainkan karena rasa rindu ini terlalu besar, terlalu penuh, hingga menyiksa jika hanya kusimpan sendiri di dalam kepala. Aku merindukanmu, teramat sangat, di setiap helaan napasku.

​Sore ini, aku sengaja datang ke sini, berdiri di tepi dermaga yang langsung menghadap ke laut lepas. Aku sengaja mencari tempat di mana aku bisa memandang ke seberang, ke arah pulau yang siluetnya berdiri kokoh di batas cakrawala.

​Pulau itu... adalah tempat yang paling sering hidup dalam obrolan kita dulu. Jauh sebelum aku hadir di hidupmu, jauh sebelum takdir menautkan nama kita dalam satu ikatan pernikahan, kamu sudah menghabiskan sepuluh tahun hidupmu di sana. Menumpahkan keringat, membangun mimpi, dan melewati hari-hari yang membentukmu menjadi pria yang kukenal. Dulu, aku hanya bisa membayangkan pulau itu lewat caramu bercerita yang penuh binar. Namun sore ini, melihatnya langsung dengan mataku sendiri, rasanya begitu magis sekaligus menyesakkan. Pulau itu seolah menjadi saksi bisu dari separuh jiwamu yang pernah berjuang di sana, dan kini aku berdiri memandangnya, meraba kembali jejak-jejak masa lalumu yang kini juga menjadi bagian dari sejarah hidupku.

​Ada sesuatu yang aneh tentang bagaimana waktu bekerja. Orang-orang di luar sana mungkin berpikir bahwa perpisahan otomatis menghapus segalanya, bahwa melangkah maju berarti melupakan. Namun kenyataannya tidak pernah sesederhana itu. Ada bagian dari diriku yang dengan sengaja menolak untuk beranjak dari momen-momen indah yang pernah kita lalui bersama. I don't move on our moment everytime. Dan aku tidak malu untuk mengakui itu pada diriku sendiri.

​Setiap sudut kenangan bersamamu adalah ruang yang selalu hangat, tempat di mana aku selalu menemukan kembali arti ketulusan. Hubungan kita mungkin telah berubah bentuk, jalannya mungkin tak lagi searah, tetapi semua pelajaran hidup yang kamu tinggalkan terlalu berharga untuk dilupakan. Kamu telah mengajariku banyak hal tentang kedewasaan, tentang bagaimana bertahan di tengah badai, dan tentang bagaimana mencintai dengan seluruh jiwa. Untuk semua itu, aku akan selalu berterima kasih kepadamu. Kamu tidak akan pernah menjadi sekadar "masa lalu" yang lewat begitu saja; kamu adalah guru terbaik dalam hidupku.

​Menatap pulau di seberang sana membuatku sadar akan satu hal. Seperti pulau itu dan dermaga tempatku berdiri sekarang kita dipisahkan oleh hamparan air yang luas dan dalam, tak lagi bisa bersentuhan langsung seperti dulu. Namun, kita berdua tahu bahwa di bawah dasar laut yang paling dalam, bumi yang kita pijak sebenarnya tetap satu dan saling bertautan. Begitulah caraku memandang kita saat ini. Kita mungkin berada di dua dunia yang berbeda, menjalani takdir masing-masing yang terpisah oleh jarak dan keadaan, namun ikatan emosional dan rasa hormat di antara kita akan selalu ada di sana, mengakar kuat di dasar hati.

​Rindu ini memuncak hari ini, tepat di hari jadi pernikahan kita yang pernah kita rayakan bersama. Namun, bersamannya dengan air mata yang telah surut, rindu ini menjelma menjadi sebuah doa yang paling sunyi sekaligus paling tulus.

​Di mana pun kamu berada saat ini, di bawah langit mana pun kamu sedang melangkah, dan apa pun mimpi yang sedang kamu rajut kembali, doaku dari tepi laut ini akan selalu sama: semoga hatimu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan yang sejati. Semoga kedamaian selalu memelukmu erat, menjagamu dari segala kesedihan.

​Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Hari ini, di tempat ini, dan di setiap sisa hari yang akan kujalani nanti. Tulisan ini kubuat agar momen ini abadi, agar semesta tahu bahwa apa yang pernah kita miliki adalah sesuatu yang terlalu indah untuk dianggap tidak pernah ada.


Tembilahan, 21 Juni 2026

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah