Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

 

Ada aliran yang tak bisa dihentikan. Ia mengalir di bawah kulit, membawa sisa-sisa perasaan yang belum sempat dimakamkan. Setiap tetesnya mengingatkan bahwa tubuh masih hidup, meski hati sudah lama berhenti bergetar. Darah itu seperti sungai yang tak tahu arah laut ia hanya terus berjalan, melewati luka-luka yang tak kunjung kering, mencari muara yang tak pernah ditemukan.

Aku pernah berpikir, mungkin aliran darahku ini adalah surat yang tak pernah sempat terkirim kepada Tuhan. Surat yang isinya hanya satu kalimat pendek: Aku sudah cukup, aku ingin pulang. Tapi setiap kali kutulis itu dalam doa, tubuhku menolak berhenti berdetak. Jantungku, meski lelah, masih memompa tanda bahwa aku belum diizinkan pergi. Seolah-olah Allah ingin aku tetap di sini, menyaksikan bagaimana setiap denyut menjadi bentuk lain dari ketabahan.

Ada hari-hari ketika darahku terasa dingin. Seperti mengalir tanpa arah, seperti tak lagi punya makna. Tapi di sela-sela itu, ada satu detik yang ganjil detik di mana darah itu membawa cahaya kecil, samar, tapi nyata. Mungkin itu bukan harapan, mungkin hanya sisa keberanian. Namun cukup untuk membuatku sadar bahwa bahkan luka pun butuh alasan untuk bertahan.

Aku mengalir bersama darahku sendiri. Kadang deras, kadang perlahan. Setiap kali aku menutup mata, aku bisa mendengarnya: deg… deg… deg… Bukan suara jantung semata, tapi suara waktu yang menolak menyerah. Ia berkata, “Belum, kamu belum selesai.” Dan di antara bunyi itu, aku menemukan sesuatu yang lebih halus daripada doa yaitu keinginan untuk bertahan meski tak tahu untuk apa.

Darah ini saksi dari setiap nama yang pernah kusebut dalam air mata. Dari cinta yang berubah jadi racun, dari harapan yang membusuk di tengah kesunyian. Tapi meski semua itu terasa seperti kutukan, darah ini tetap mengalir. Ia tidak membenci tubuh yang menampungnya. Ia hanya menjalankan tugasnya: membawa kehidupan, bahkan ketika pemiliknya tak lagi menginginkannya.

Mungkin, begitulah kasih Tuhan bekerja. Tidak selalu dalam bentuk pelukan hangat atau keajaiban yang memukau. Kadang, kasih itu berwujud aliran darah yang tak berhenti, meski pemiliknya ingin berhenti bernapas. Kasih itu berkata, “Kamu masih di sini karena Aku masih menulis takdirmu.”

Jadi aku biarkan darah ini mengalir. Biarkan ia membawa semua luka, semua nama, semua kenangan yang tak sempat berpamitan. Suatu hari nanti, ketika luka-luka ini berubah menjadi jaringan baru, mungkin aku akan mengerti bahwa hidup bukan soal tak ada sakit, tapi soal terus mengalir, meski tubuh gemetar menahannya.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Bara yang Dingin di Tanah Madinah