Ada aliran yang tak bisa dihentikan. Ia mengalir di bawah kulit, membawa sisa-sisa perasaan yang belum sempat dimakamkan. Setiap tetesnya mengingatkan bahwa tubuh masih hidup, meski hati sudah lama berhenti bergetar. Darah itu seperti sungai yang tak tahu arah laut ia hanya terus berjalan, melewati luka-luka yang tak kunjung kering, mencari muara yang tak pernah ditemukan. Aku pernah berpikir, mungkin aliran darahku ini adalah surat yang tak pernah sempat terkirim kepada Tuhan. Surat yang isinya hanya satu kalimat pendek: Aku sudah cukup, aku ingin pulang. Tapi setiap kali kutulis itu dalam doa, tubuhku menolak berhenti berdetak. Jantungku, meski lelah, masih memompa tanda bahwa aku belum diizinkan pergi. Seolah-olah Allah ingin aku tetap di sini, menyaksikan bagaimana setiap denyut menjadi bentuk lain dari ketabahan. Ada hari-hari ketika darahku terasa dingin. Seperti mengalir tanpa arah, seperti tak lagi punya makna. Tapi di sela-sela itu, ada satu detik yang ganjil detik di ma...
Comments
Post a Comment