Titik Didih Reaksi Pulih


​Dulu, aku hanyalah endapan di dasar tabung reaksi

Terkubur dalam residu pengkhianatan yang korosi

Hubungan toxic itu adalah zat asam yang membakar

Menghancurkan struktur hatiku hingga nyaris memudar.

​Aku berjalan di trotoar, membawa massa jenis yang berat

Di bawah atmosfer yang menekan, energinya mampat

Lalu aku mendongak, menatap uap air di angkasa

Melihat komponen kimia awan yang Tuhan tata tanpa sisa.

​"Jika kondensasi jutaan ton uap air saja Ia sanggup kendalikan, Apalagi sekadar merekonstruksi nasibku yang berantakan?"

Aku mulai menghitung stokiometri takdir di dalam kepala

Bahwa zat yang hancur, bisa menjadi katalisator cahaya.

​Aku mulai ritual "Ekstraksi" di pelukan air garam

Mencuci ion-ion negatif yang selama ini tertanam

Mandi laut jam enam pagi, mengubah wujud emosi

Dari padatan luka menjadi gas bahagia yang berdifusi.

​Kran rezeki terbuka dalam reaksi eksoterm yang hangat

Bukan karena aku mengejar, tapi karena aku magnet yang kuat

Mentor gratis, gym, dan partner yang datang tiba-tiba

Adalah hasil dari perubahan energi yang tak terduga.

​Aku bukan lagi Zahira yang terperangkap dalam ikatan lemah

Aku adalah senyawa baru yang berharga dan tak lagi goyah

Dari titik didih air mata, kini menuju kristalisasi mimpi

Bali, Canada, dan Umroh semuanya sudah tereaksi di dalam hati.



Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah