Perempuan yang Masih Bertahan

 

Aku pernah mencintai sedalam laut

hingga lupa caranya berdiri tanpa bahu.

Aku pernah percaya,

bahwa dipilih berarti selamanya.

Lalu dunia berubah pelan-pelan,

seperti senja yang tak pernah minta izin

untuk menggelapkan langitku.

Aku rindu.

Pada orang tuaku.

Pada diriku yang dulu tertawa tanpa beban.

Pada pelukan yang kini hanya tinggal doa.

Tapi dengar ini, wahai hatiku

meski kau merasa tak dipilih,

kau tetap hidup.

Meski kau merasa tak dipedulikan,

kau tetap menulis.

Dan perempuan yang masih bisa menulis

di tengah patah yang paling sunyi

adalah perempuan yang belum kalah.

Jika Tuhan menciptakanku dengan luka,

mungkin itu karena

aku mampu menanggungnya.

Jika hari-hari terasa tanpa tujuan,

mungkin aku sedang ditenun perlahan

menjadi sesuatu yang belum bisa kulihat.

Aku bukan beban.

Aku bukan kesalahan.

Aku bukan sisa.

Aku adalah perempuan

yang sedang belajar

mencintai dirinya

tanpa harus ditinggalkan dulu.

Dan malam ini,

meski air mata masih jatuh,

aku masih di sini.

Itu cukup. 🤍

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah