Ketika Tidak Ada yang Menjadi Rumah, Aku Belajar Menjadi Rumah untuk Diriku Sendiri
Ada orang lahir ke dunia dengan sambutan suara tepuk tangan keluarga yang hangat, pelukan setiap kali takut, dan dada untuk bersandar ketika dunia terasa tidak adil. Ada pula yang tumbuh seperti bunga di tengah padang pasir hidup, tapi haus; bertahan, tapi terluka. Aku adalah jenis yang kedua.
Sejak kecil, dunia seperti berkata bahwa aku harus kuat, bahkan sebelum aku tahu apa itu rapuh. Tidak ada yang mengingat hari di mana aku jatuh untuk pertama kali, tidak ada yang bertanya apakah aku sudah makan, tidak ada yang memastikan aku baik-baik saja. Aku tumbuh bukan karena dijaga, tetapi karena terpaksa bertahan.
Aku belajar bahwa rasa sakit tidak butuh izin untuk datang. Ia mengetuk tanpa permisi, dan aku dipaksa menyiapkan ruang untuknya.
Kemudian aku jatuh cinta. Tidak pada orang biasa, tetapi pada seseorang yang dulu kupercaya bisa menjadi rumah setelah bertahun-tahun berjalan sendirian. Aku mengira akhirnya aku bisa pulang, menggantungkan beban, dan merasakan aman. Tapi ternyata aku hanya berpindah dari satu padang pasir ke padang pasir lain. Kali ini lebih panas karena rasanya dikhianati oleh tempat yang kuanggap “rumah” lebih menyakitkan dari hidup sendirian.
Bukannya dipeluk, aku didiamkan. Bukannya dijaga, aku dilemahkan. Bukannya disayangi, aku disalahkan.
Pada malam ketika aku kedinginan karena selimut yang tidak dibagi, aku sadar:
ada cinta yang tidak membuatmu hangat, tetapi justru membuatmu menggigil sampai ke tulang.
Aku pernah memohon untuk dimengerti. Aku pernah berusaha menjadi cukup. Aku pernah berpikir, “Jika aku berubah sedikit lagi, mungkin dia akan mengerti.”
Tapi begitulah cinta yang salah: ia membuatmu kehilangan dirimu sendiri untuk mempertahankan seseorang yang tidak pernah berniat menemuimu di tengah.
Lalu orang berkata, “Lihat orang lain, mereka bahagia. Suami yang penyayang. Anak yang mencintai. Orang tua yang selalu ada.”
Dan aku tersenyum… bukan karena aku tidak terluka, tapi karena aku sudah terlalu sering dibandingkan dengan kehidupan yang tidak pernah menjadi milikku.
Kadang aku iri.
Kadang aku marah.
Kadang aku bertanya pada Tuhan, “Sampai kapan aku begini?”
Tapi semakin lama, aku mulai mengerti…
Tuhan tidak sedang memanjakan mereka. Dia sedang menguatkanku.
Orang lain belajar tentang cinta dari pelukan.
Aku belajar dari kehilangan.
Orang lain belajar bahwa mereka berharga karena dibuktikan oleh orang lain.
Aku belajar bahwa aku berharga meski tidak ada yang membuktikan.
Itu bukan hidup yang mudah.
Tapi itu membentukku menjadi seseorang yang orang lain datang mencari ketika mereka hancur, karena aku tahu seperti apa rasanya.
Aku tidak lahir dari kehangatan aku lahir dari badai.
Aku tidak tumbuh dalam pelukan aku tumbuh dalam pertarungan.
Aku tidak dibesarkan untuk kenyamanan aku dibesarkan untuk bertahan.
Dan hari ini, setelah semua luka, kemarahan, dan pertanyaan yang tidak terjawab… aku tidak lagi menunggu seseorang menyalakan cahaya untukku.
Aku belajar menyalakan cahayaku sendiri.
Jika tidak ada yang menjadi rumah untukku, maka aku akan menjadi rumah untuk diriku sendiri.
Rumah yang tidak memukul.
Rumah yang tidak merendahkan.
Rumah yang tidak membuatku menangis di lantai tengah malam.
Rumah yang hangat, lembut, dan penuh penerimaan.
Aku mulai mengerti…
bahwa perjalanan hidupku bukan hukuman itu adalah panggilan.
Agar suatu hari aku bisa berkata kepada orang yang hancur sepertiku:
“Kamu tidak salah kamu hanya mencintai orang yang salah.”
Dan ketika saatnya tiba… aku akan mencintai lagi.
Tapi bukan lagi dengan harapan menjadikan seseorang rumahku melainkan berbagi rumah yang telah kubangun dalam diriku.
Bukan karena aku butuh diselamatkan.
Tapi karena aku sudah selamat.
Comments
Post a Comment