Tentang Mereka yang Masih Belajar Pergi

 

Ada satu masa dalam hidup seseorang, ketika pagi tak lagi datang dengan semangat, hanya dengan rutinitas yang menggantung di udara. Tubuh berjalan, tapi hati tertinggal di antara sisa-sisa rasa yang belum selesai. Ia terbangun setiap hari bukan karena ingin, tapi karena harus. Air di wastafel mengalir bersama sisa kantuk dan beban, sementara di cermin, wajahnya tampak seperti seseorang yang sedang meminjam dirinya sendiri. Namun di balik semua itu, ada api kecil yang masih hidup, api yang menolak padam meski dunia pernah menenggelamkannya berkali-kali.

Ia belajar mencintai kembali dirinya dengan cara yang sederhana. Mengangkat gelas, menata lapak, menunggu dengan sabar, seolah keheningan itu bisa memberinya arti. Kadang, di sela-sela waktu, ia juga duduk di depan anak-anak yang memandang dengan mata ingin tahu. Dari mereka, ia belajar bahwa mengajar bukan soal membagi pengetahuan, tapi soal belajar memahami manusia termasuk dirinya sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk yang tak pernah benar-benar ada, ia mulai mengenal lagi ritme tubuhnya. Berjalan ke tempat asing yang penuh suara logam dan keringat, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk pulang. Setiap tetes keringat yang jatuh terasa seperti menurunkan beban yang tak lagi ingin dibawa.

Namun hidup selalu punya cara untuk menguji hati yang sedang tumbuh. Seseorang datang, dengan nada suara yang lembut dan tatapan yang mengenal luka. Bukan asing, tapi juga bukan rumah. Dan tanpa sadar, ia menoleh.

Ada rasa hangat di situ, tapi juga samar-samar bahaya. Bukan karena kata-katanya kasar, melainkan karena terlalu pandai merangkai kebaikan. Terlalu cepat tahu di mana letak retak di dada, dan terlalu mudah menawarkan “aku mengerti”, padahal belum tentu benar-benar mau mengerti.

Lalu ia berpikir, mungkin tidak apa-apa. Mungkin hanya ingin bercakap, menghabiskan waktu, menukar cerita tentang hujan dan kesepian. Tapi di balik tiap percakapan, ia tahu betul: ada tali halus yang perlahan melingkar di pergelangan hati. Dan kali ini, ia berjanji tidak akan membiarkannya mengencang.

Ia tersenyum, menulis, mengajar, berolahraga, berjualan, menemukan dirinya di antara bau keringat dan buah segar, di antara senja yang sepi tapi jujur. Karena sekarang, setiap langkah bukan lagi pelarian, tapi pemulangan. Pemulangan ke tubuhnya sendiri, ke tenang yang tak lagi bergantung pada suara siapa pun.

Dan ketika malam datang, ia berbicara pada dirinya dengan lembut: “Aku tidak ingin melupakan siapa pun. Aku hanya ingin mengingat diriku lebih dulu.”

Begitulah cara ia bertahan, bukan dengan menolak masa lalu, tapi dengan memeluk dirinya sendiri lebih erat dari siapa pun yang pernah berjanji untuk tinggal.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah