Residu dari Euforia yang Pernah Mengalir


Ada masa di mana dunia terasa terlalu terang.

Segala hal kecil seperti berkedip, berjalan, bahkan bernapas semuanya punya ritme baru, seolah alam semesta menari untuk satu nama yang tiba-tiba datang tanpa undangan. Ia datang membawa warna, membawa janji, membawa rasa yang menabrak batas-batas logika. Dan di saat itu, aku tidak tahu bahwa kebahagiaan juga bisa memabukkan seperti zat kimia yang disuntikkan ke otak tanpa izin sadar.

Setiap kalimatnya menjadi obat penenang yang lebih ampuh dari tidur panjang.

Setiap tatapannya seperti larutan adiktif yang melarutkan kewaspadaan.

Aku menyebutnya cinta, padahal yang kurasakan mungkin hanya reaksi tubuh terhadap aliran dopamin yang terlalu deras. Aku tidak sedang jatuh cinta aku sedang tinggi karena cinta. Dan seperti semua zat yang mengubah kesadaran, euforia itu tak pernah bertahan lama.

Saat semuanya reda, yang tersisa hanyalah tubuh yang gemetar. Otak yang mencari dosis berikutnya dari perhatian, pesan, dan janji yang dulu diberikan dengan murah hati.

Aku menjadi pengemis dari kebahagiaan yang pernah kuterima dalam bentuk kalimat manis dan sentuhan hangat. Tapi pemberiannya berhenti, dan aku tak siap menghadapi dunia tanpa zat penenang itu.

Mereka bilang, semua orang akan menolak kesenangan.

Mungkin benar karena terlalu banyak kesenangan membuat kita lupa bahwa hidup seharusnya punya ruang hening. Aku menolak kehilangan itu dengan cara yang salah: mencoba membangkitkan kembali kenangan, seolah kenangan bisa meneteskan kembali cairan bahagia yang dulu mengalir deras di dalam darahku.

Padahal tubuhku sudah berhenti memproduksinya. Yang tersisa hanyalah efek samping insomnia, gelisah, dan rasa rindu yang tidak punya arah.

Cinta seperti ini tidak mati ketika hubungan berakhir.

Ia menetap di sistem saraf, bersembunyi di balik detak jantung, menunggu momen kecil untuk menyala lagi. Kadang hanya lewat lagu, aroma sabun, atau nama yang tak sengaja terdengar di udara. Dan setiap kali itu terjadi, aku kembali mengalami gejala kambuh: tubuhku mengenali sumber dopamin itu, padahal logikaku sudah tahu sumber itu racun.

Tapi siapa yang bisa benar-benar sembuh dari candu yang namanya cinta?

Kita semua, entah sadar atau tidak, pernah menjadi pecandu dari seseorang. Bukan karena orangnya istimewa, tapi karena tubuh kita memutuskan bahwa dialah alasan untuk merasa hidup.

Dan ketika alasan itu pergi, kita seperti mati sebagian bukan karena cinta hilang, tapi karena sistem tubuh kita belum belajar cara hidup tanpa euforia itu.

Kini aku belajar, pelan-pelan, untuk tidak lagi mencari dosis baru.

Untuk tidak lagi menyalakan dopamin dengan nama yang sama.

Aku biarkan tubuhku detoksifikasi dari kebahagiaan yang semu, dari cinta yang membuatku kehilangan diriku sendiri. Kadang aku masih gemetar, kadang aku masih merindukan sensasi itu tapi aku mulai bisa melihat kesunyian sebagai obat yang lebih jujur daripada pelukan palsu.

Dan mungkin, inilah yang dimaksud pemateri itu waktu berkata:

“Semua orang akan menolak kesenangan.”

Karena kesenangan yang sejati tidak memabukkan ia tenang, ia tidak terburu-buru, ia tidak membuatmu kehilangan diri sendiri hanya untuk merasa cukup.

Sementara aku, perlahan, sedang belajar untuk menikmati rasa hampa bukan sebagai kehilangan, tapi sebagai kebebasan dari candu yang pernah kusebut cinta.


Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah