Persamaan yang Tak Pernah Selesai
Di dalam laboratorium hidupku, aku sering merasa seperti seorang peneliti yang terus mengukur, menghitung, dan mengaduk larutan tanpa pernah tahu hasilnya akan jernih atau keruh. Setiap orang yang hadir dalam hidupku adalah unsur, atom, variabel. Ada yang datang seperti Natrium, reaktif, menyala terang ketika bersentuhan dengan air; ada yang datang seperti Helium, ringan, mengisi ruang tapi tak pernah melekat.
Aku pun, sebagai manusia, bukan hanya penonton. Aku adalah senyawa yang berubah setiap kali bereaksi dengan orang lain. Kadang aku jadi asam, kadang jadi basa, kadang netral. Aku belajar bahwa tidak semua reaksi menghasilkan produk yang kita inginkan. Ada reaksi yang meledak, ada yang menghasilkan endapan, ada yang tidak pernah mencapai kesetimbangan.
Dalam matematika hubungan, aku dulu percaya bahwa 1 + 1 = 2. Aku dan dia, jika digabungkan, akan menjadi kita. Tapi kemudian aku sadar, ada variabel tersembunyi yang tak pernah aku tuliskan. Ada faktor x yang membuat 1 + 1 bisa jadi nol, atau bahkan negatif. Aku lupa bahwa dalam persamaan cinta, bukan hanya penjumlahan yang bekerja, tetapi juga pengurangan, pembagian, dan kadang akar kuadrat dari rasa sakit.
Aku pernah menemukan seseorang yang menurutku akan jadi koefisien terbesar dalam hidupku. Aku masukkan dia ke dalam semua rumus: rumus kebahagiaan, rumus kesabaran, rumus dunia-akhirat. Aku percayai dia seperti aku mempercayai angka prima: unik, tak terbagi. Tapi ternyata, angka prima juga bisa jadi bilangan asing yang tak bisa diuraikan, dan reaksinya bisa melepaskan energi yang melukai.
Sekarang aku berdiri di titik ini: titik balik grafik. Aku melihat garis hidupku yang sempat turun ke bawah sumbu-x, lalu perlahan naik lagi. Aku belajar, bahkan fungsi yang paling rumit sekalipun, jika kita cukup sabar mencari turunan dan integralnya, akan memperlihatkan pola. Seperti larutan pekat yang pelan-pelan jernih ketika dititrasi, luka juga bisa menetral jika diberi waktu dan pereaksi yang tepat: cinta pada diri sendiri.
Aku tidak lagi mencari “atom sempurna” atau “angka yang tepat” untuk mengisi kekosongan ini. Aku belajar bahwa diriku sendiri adalah unsur dasar, bahwa aku bisa menjadi senyawa stabil jika aku menjaga suhu, tekanan, dan batas diriku. Jika nanti ada atom lain yang datang, biarlah dia bereaksi dengan lembut, bukan dengan meledak. Jika nanti ada variabel baru dalam persamaanku, biarlah dia memperluas grafik, bukan memotongnya.
Dan mungkin di masa depan, ketika aku sudah menemukan keseimbanganku sendiri, aku akan tersenyum melihat kembali eksperimen-eksperimen yang gagal. Aku akan mengerti bahwa setiap endapan, setiap ledakan, setiap angka negatif bukanlah bukti kebodohan, melainkan data yang membuat rumusku semakin tepat. Seperti ilmuwan yang tak pernah lelah mengulang percobaan, aku juga akan terus belajar, sampai akhirnya aku menemukan rumus yang sederhana:
> Aku + Diriku Sendiri = Cukup.
Dan jika nanti datang seseorang yang benar-benar tulus, persamaannya akan berubah dengan indah:
> Aku + Diriku Sendiri + Dia = Kita yang Sehat.
Sampai saat itu tiba, aku akan terus menulis, mengaduk, menghitung, menakar. Bukan untuk menghapus luka, tapi untuk mengubahnya jadi energi. Karena dalam kimia dan matematika hidup ini, tidak ada yang benar-benar hilang. Energi hanya berubah bentuk, cinta hanya berpindah tempat, dan aku meski remuk masih tetap menjadi unsur yang punya massa, punya arti, punya nilai.
Comments
Post a Comment