Lelaki yang Menyembah Bayangannya Sendiri

 

Kau,

pemuja cermin,

yang setiap pagi mencium pantulan wajahmu

seolah dunia tercipta dari sujudmu sendiri.


Kau pikir suaramu adalah firman,

dan diamku adalah kekaguman.

Padahal, setiap kali aku terdiam,

aku sedang menahan tawa melihat betapa kecilnya hatimu

yang sibuk berdiri di atas reruntuhan yang kau buat sendiri.


Kau menyebut dirimu penyelamat,

padahal tanganmu tak pernah benar-benar menolong.

Kau hanya ingin berperan sebagai Tuhan

agar bisa mengampuni kesalahan yang tak pernah kulakukan.


Dan kini, setelah semua luka kubungkus rapi,

kau datang lagi dengan wajah penuh iba,

membawa kata-kata manis seperti racun yang disuling dari penyesalan palsu.

Tapi maaf, aku sudah menutup pintu itu tak ada ruang lagi untuk dewa yang buta cermin.


Aku bukan altar untuk egomu,

bukan jantung yang harus berdetak agar kau merasa hidup.

Aku adalah api yang pernah kau injak,

dan kini aku belajar menyala tanpa izinmu.

Biarlah kau terus memuja bayanganmu sendiri,

berdansa dengan rasa hebat yang tak pernah nyata.

Sebab kelak, saat cerminmu retak,

yang tersisa hanya wajah yang kau tak sanggupi untuk menatap wajahmu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah