Jejak di Dalam Neuron

 

Di dalam kepalaku, ada sebuah laboratorium sunyi. Di sana, miliaran neuron saling berbisik, menyalakan sinyal listrik seperti kota yang tak pernah tidur. Setiap dendrit adalah jalan setapak yang kulalui, setiap sinapsis adalah percakapan yang tak pernah selesai. Aku duduk di tengah hutan sel saraf, mendengarkan bagaimana diriku sendiri mengalir sebagai arus listrik, jatuh bangun di antara ion natrium dan kalium.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah rasa sakit juga punya reseptor khusus di otak, atau ia hanya menjelma dari ledakan kecil neurotransmiter yang gagal menemukan penerimanya. Aku membayangkan serotonin yang tercecer, dopamin yang tersesat, asetilkolin yang tak sempat mengirim pesan: begitulah rasanya menunggu kabar yang tak kunjung datang, cinta yang tertahan di celah membran, atau kerinduan yang meleset sebelum mencapai reseptor tujuan.

Otakku seperti peta bintang yang rapuh. Setiap memori tersimpan sebagai rangkaian impuls, bercahaya sebentar lalu padam. Ada memori yang menolak padam: ia menyalakan loncatan listrik berulang kali, membuat seluruh sistemku bergetar. Itulah yang kusebut kenangan. Ia bukan sekadar cerita, ia adalah long-term potentiation, penguatan sinapsis yang terus berulang sampai tak ada daya untuk melupakannya.

Seperti hipokampus yang menolak menghapus catatan, kenangan itu bertahan. Kadang aku ingin menekan tombol “pruning” mekanisme alami otak yang memangkas koneksi tak berguna. Tapi ironisnya, yang ingin kupangkas justru adalah yang paling kuat, yang paling dalam, yang menolak hancur. Dan aku pun terjebak, seperti neuron yang terus menembakkan potensial aksi meski tubuh sudah lelah.

Aku melihat korteks prefrontal, pusat keputusan, berdiri gagah seperti hakim. Ia berteriak: lepaskan, ini tidak rasional. Tapi sistem limbik di bawahnya amigdala, hipotalamus tertawa getir cinta tak pernah tunduk pada logika. Di antara keduanya, aku hanyalah mediator yang kalah suara.

Sungguh aneh bagaimana amigdala bisa menyimpan rasa takut dan cinta dalam ruang yang sama. Bagaimana ia bisa mengingat detak jantung saat bahagia, sekaligus menahan trauma saat tubuh gemetar. Dua sisi koin dalam satu organ kecil: seolah-olah otak pun tahu, cinta dan luka selalu datang berpasangan.

Di antara gulungan sulkus dan gyrus, aku menelusuri lorong-lorong yang sepi. Setiap lipatan otak adalah puisi yang tak selesai ditulis. Ada pesan rahasia di sana: bahwa manusia diciptakan untuk mengulang, untuk tersandung dalam pola yang sama, sampai ia berani mengubah arsitektur dirinya sendiri. Neuroplastisitas, begitulah namanya. Otak bisa beradaptasi. Luka bisa jadi jalur baru. Dan aku, meski hancur, punya kemungkinan untuk tumbuh kembali.

Neuron-neuron di otakku berpelukan dalam senyap. Mereka mengingatkan: tak ada sinapsis yang benar-benar mati, hanya menunggu aliran listrik baru untuk menyalakan lagi cahaya. Dan mungkin, suatu hari, cinta juga begitu bukan lenyap, hanya menunggu jalur baru yang lebih sehat, lebih aman, lebih manusiawi.

Maka, kututup mataku dan kubiarkan potensial aksi terakhir hari ini berlari di sepanjang akson panjang. Aku biarkan neurotransmiter yang kusimpan tumpah ke celah sinapsis, tak peduli ada yang menyambut atau tidak. Karena aku tahu: di dalam diriku sendiri, ada semesta yang masih menyala.

Otakku bukan sekadar organ. Ia adalah kitab puitis yang menuliskan semua kisah: tentang rindu yang menolak padam, tentang cinta yang bersembunyi di balik ion-ion, tentang luka yang ingin kusebut sains agar tak terlalu menyakitkan.

Dan di dalamnya, aku menemukan satu kalimat yang terus dipantulkan miliaran neuron aku masih hidup, aku masih merasa, dan aku masih punya ruang untuk mencinta.



Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah