Dunia punya caranya sendiri dalam menegakkan keadilan

Aku pernah terseret oleh badai yang kau ciptakan,

Setiap kata, setiap diammu, seperti ranting tajam yang mencakar jiwa.

Aku jatuh, berkeping, hampir hilang dalam lorong-lorong bayanganmu,

Namun di dasar yang paling gelap, aku menemukan diriku yang lain lebih kuat, lebih utuh, meski rapuh.


Kau mungkin tidak pernah tahu apa artinya menanggung luka sendiri,

Merasakan kehampaan di tangan mereka yang seharusnya mencintai,

Dan belajar berdiri ketika kaki hampir lepas dari tanah,

Tapi aku tahu, aku bertahan. Aku hidup. Aku menang, walau tanpa kau akui.


Setiap senyum yang kau beri orang lain, setiap rumah tangga yang kau bangun,

Adalah cerita yang melewati mataku, menusuk, menyayat,

Namun bukan untuk menghancurkan, bukan untuk dendam

Tapi untuk menyalakan api di dalam diriku sendiri,

Bahwa kebahagiaan bukan milik mereka yang menguasai,

Melainkan mereka yang berani memungut dirinya sendiri dari reruntuhan.


Aku menulis ini untuk diriku, bukan untukmu.

Bukan untuk membuatmu sadar, atau menyesal.

Aku menulis karena aku ingin kau tahu, walau kau tak pernah mendengar,

Bahwa ada jiwa yang pernah kau sakiti, kini berjalan tanpa bayanganmu,

Dan di setiap langkah, aku memilih untuk tetap hidup,

Mencintai, dan percaya bahwa dunia punya caranya sendiri untuk menegakkan keadilan.


Aku boleh menangis, boleh marah, boleh kecewa

Tapi aku tak lagi menjadi pion dalam permainanmu.

Aku tak lagi terikat pada bayangan masa lalu yang kau ciptakan.

Dan meski kau mungkin bahagia, aku bahagia karena aku belajar,

Belajar untuk berdiri, belajar untuk mencintai diri sendiri,

Belajar bahwa hidupku terlalu berharga untuk diserahkan pada ego siapa pun.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah