Di Antara Yang Pergi dan Yang Tetap Tinggal

 

Ada masa di mana aku berusaha memeluk sesuatu yang sudah tak lagi berbentuk.

Seperti menggenggam udara, seperti menatap langit sore yang menyimpan matahari tapi perlahan hilang di ujung cakrawala. Aku dulu percaya, kalau aku bertahan cukup lama, seseorang akan memilih untuk tinggal. Tapi kini aku tahu, beberapa jiwa memang hanya mampir sebentar memberi pelajaran, bukan kehidupan.


Aku pernah tinggal bersama seseorang yang tubuhnya ada, tapi jiwanya entah di mana.

Kami berbagi ruang, tapi tidak lagi berbagi arah. Di matanya, aku hanyalah gema dari suara yang tak ingin ia dengar. Dan perlahan aku belajar, bahwa memaksa seseorang untuk menetap sama artinya dengan kehilangan diriku sendiri. Jadi kini, kalaupun aku bertemu yang baru, aku tidak akan memintanya untuk tinggal. Kalau memang ia mau, ia akan menunjukkan bukan dengan kata, tapi dengan kehadiran yang tenang.

Ada hari-hari di mana aku tak punya banyak, tapi entah kenapa hidup tetap terasa cukup.

Aku belajar, bahwa rezeki bukan hanya uang, tapi juga kesempatan untuk memberi.

Seorang anak kecil pernah datang dengan uang dua ribu, dan aku memberinya teh tanpa berpikir dua kali. Hari itu aku sadar, mungkin akulah yang sedang diberi diberi kesempatan untuk tahu bahwa kebaikan sekecil itu bisa jadi pintu luas menuju keberkahan.

Dan ketika seorang yang dianggap “gila” datang ke dekat jualanku, aku tak bisa menahan diri untuk memberi minum. Mungkin karena aku teringat pada abangku yang juga hidup dalam dunia yang sulit dimengerti. Mungkin karena di balik semua kelelahan ini, aku masih ingin percaya bahwa setiap manusia pantas diperlakukan dengan kasih.

Sekarang, aku tidak lagi berharap banyak.

Kalaupun aku sukses suatu hari nanti, aku hanya ingin menolong orang-orang yang kehilangan arah seperti dulu aku kehilangan diriku sendiri.

Aku ingin jadi tempat singgah kecil bagi mereka yang sedang tersesat, bukan untuk selamanya, tapi cukup untuk membuat mereka percaya lagi pada kebaikan.

Dan jika hidupku berakhir tanpa seseorang yang menggenggam tanganku, tidak apa-apa.

Karena aku sudah berdamai. Aku sudah cukup. Aku sudah sehat bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa. Aku sudah bisa menatap dunia tanpa beban, tanpa haus ingin dimengerti.

Sekarang aku hanya ingin hidup seperti air mengalir, memberi, dan sesekali menenangkan siapa pun yang singgah di tepiku.

Aku tidak lagi menunggu siapa pun datang membawa bahagia,

karena aku sudah menanamnya di dalam diriku sendiri. 

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah