When Silence Becomes the Only Notification

When Silence Becomes the Only Notification


Ada malam ketika aku menyalakan layar, dan cahaya birunya menampar wajahku. Kupikir akan ada riuh puluhan pesan, panggilan yang tertinggal, tanda bahwa aku dicari. Tapi ternyata, kosong. Sepi, senyap, hanya ikon baterai dan jam digital yang terus bergerak.

No notifications. No whispers. No digital heartbeat.

Awalnya, ada rasa getir. Aku merasa seperti berdiri di tengah keramaian tapi tak ada satu pun mata yang menoleh. “Apakah aku begitu mudah hilang?” “Apakah ketidakhadiranku benar-benar tak berarti?” Pertanyaan itu menari di kepalaku, seperti bayangan yang enggan pergi.

Namun semakin kupandang layar tanpa pesan itu, semakin aku sadar sesuatu: kesepian kadang adalah hadiah. A strange kind of freedom. Tidak ada yang menarik tanganku, tidak ada yang menunggu jawaban dariku, tidak ada yang mengikatku pada percakapan yang memaksa. Aku bebas.

Silence, after all, is also a form of language 

Ketiadaan notifikasi itu seperti ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Aku bisa memilih: membuka buku dan masuk ke dunia lain, menulis catatan panjang yang hanya dimengerti hatiku, atau sekadar duduk diam, menghitung detak jantungku sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun pada siapa pun.

Di situ aku menyadari, selama ini aku sering menukar rasa tenang dengan getaran kecil di telapak tangan. Aku mengira “diriku” terletak pada seberapa sering orang lain mengetuk layar ponselku. Padahal tidak. I exist beyond the notifications. Aku tetap ada, meski dunia lupa menyapaku.

Mungkin begini rasanya jadi bintang yang jauh. Tak ada manusia yang benar-benar bisa menyentuhnya, tapi ia tetap bersinar, tetap punya cahaya, tetap punya gravitasi yang mengikat langit malam.

Dan tiba-tiba, sepi itu tidak lagi menakutkan. Sepi itu mengajarkanku sesuatu yang sederhana: aku cukup. Aku tidak butuh notifikasi untuk tahu bahwa aku bernapas. Aku tidak butuh pesan masuk untuk tahu bahwa aku sedang belajar bertahan. Aku tidak butuh panggilan tak terjawab untuk mengingat bahwa aku layak dicintai.

The world can stay silent. But my soul must never be.

Sejak malam itu, aku belajar menghargai ruang hening. Jika ponselku sepi, maka aku punya waktu untuk mendengarkan suara yang lebih jujur suara pikiranku sendiri, suara hatiku yang lama tenggelam, suara kecil yang berkata pelan: “Tenang. Kamu masih di sini. Kamu masih hidup.”

Dan barangkali, itulah notifikasi paling penting dari semuanya.


Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah