When the Mind Refuses to Sleep

 When the Mind Refuses to Sleep


Tadi malam aku terjaga terlalu lama. Pikiran berlari, melompat, memutar, seperti kuda liar yang menolak dikendalikan. Aku tahu tubuhku lelah, mataku berat, tapi pikiranku tetap menyalakan ribuan lampu. Overthinking is not just thinking too much, it is carrying a storm inside your head when all you want is silence.

Dan akhirnya, mimpi datang. Api jatuh dari langit, tepat ke telapak tanganku. Kulitku melepuh, aku menangis, tapi orang yang paling dekat hanya berkata, “nggak apa-apa,” seakan luka itu bisa sembuh hanya dengan kata. Aku terbangun dengan rasa getir, karena bukankah begitu juga kenyataan? Kadang luka terlihat jelas, tapi dunia memilih untuk tidak menolong. They see, but they don’t stay. They know, but they don’t move.

Lalu ada daun. Hijau, tampak segar, seolah sesuatu yang menyehatkan. Tapi ketika aku mencoba menggigitnya, ada serangga bersembunyi di baliknya. Rasanya pahit, menjijikkan, membuatku ingin memuntahkan semuanya. Bukankah hidup pun sering begitu? Apa yang terlihat baik di luar, ternyata menyimpan sesuatu yang tersembunyi dan melukai dari dalam. Not everything green is safe, not everything beautiful is true.

Saat bangun, aku sadar betapa lelahnya menjadi seseorang yang pikirannya terus menyalakan api. Overthinking itu seperti menggenggam bara: aku tahu panasnya akan melukai, tapi entah kenapa aku tetap menggenggamnya erat. It’s like chewing the wrong leaf you know it tastes wrong, but you keep chewing, afraid to spit it out, afraid to waste the effort.

Ada kalanya aku iri dengan orang yang bisa tidur pulas, seakan tidak ada apa-apa yang perlu dipikirkan. Bagiku, tidur adalah pertempuran. Sunyi adalah musuh yang membuka ruang bagi ribuan suara di kepalaku. Aku mencoba menenangkan diri dengan napas panjang, menutup mata, tapi tetap saja ada suara-suara yang berbisik: tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang kemungkinan yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. What if… what if… what if… kata itu berulang seperti mantra.

Namun di balik kelelahan itu, aku belajar sesuatu dari mimpi. Bahwa tidak semua api harus kugenggam sendirian. Bahwa aku berhak menolak daun yang beracun. Bahwa aku tidak perlu selalu memaksa diriku menelan hal-hal yang tidak cocok hanya demi terlihat “baik-baik saja.” It’s okay to let go. It’s okay to say no. It’s okay to rest.

Jadi mungkin overthinking ini bukan sekadar musuh. Ia adalah guru yang keras, tapi jujur. Ia mengajarkan betapa pentingnya memilih dengan sadar: memilih pikiran mana yang harus kusimpan, dan pikiran mana yang harus kulepaskan. And maybe healing starts here when I stop feeding the fire, and start feeding my soul instead.


Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah