Titrasi yang Tak Selesai

 “Titrasi yang Tak Selesai”

Hidup ini kadang terasa seperti sebuah laboratorium besar, tempat semua orang membawa larutan masing-masing. Ada yang datang sebagai basa, tenang, penuh keyakinan bisa menetralkan yang lain. Ada yang datang sebagai asam, menyimpan luka yang begitu pekat hingga mampu melarutkan logam sekalipun. Dan ada pula larutan yang kelihatannya jernih, padahal diam-diam menyimpan ion-ion beracun yang hanya terlihat ketika reaksi sudah terlanjur terjadi.

Aku pernah percaya bahwa setiap larutan akan menemukan pasangannya. Bahwa asam akan bertemu basa, dan keduanya mencapai titik ekuivalen yang menenangkan. Tapi ternyata, tidak semua pencampuran menghasilkan keseimbangan. Ada reaksi yang terlalu cepat, menghasilkan panas berlebih hingga membakar tabung reaksi. Ada pula reaksi yang terlihat stabil di permukaan, namun perlahan menggerogoti dinding bejana, meninggalkan keretakan yang tak kasatmata.

Ketika semua terasa terlalu asam, seseorang muncul dan mengaku bisa menjadi basa penetral. Ia datang dengan janji-janji reaksi sederhana: “Biarkan aku menyeimbangkanmu. Biarkan aku membuat larutanmu kembali netral.” Tentu saja menggoda, sebab siapa yang tak ingin terbebas dari korosi, dari rasa terbakar di dalam hati? Tapi aku tahu, basa kuat pun bisa melukai. Jika masuk dalam takaran yang salah, ia bisa mengikis sama hebatnya dengan asam.

Di titik inilah aku mulai mengerti: netralisasi sejati tidak selalu datang dari luar. Titrasi paling penting adalah yang kulakukan pada diriku sendiri meneteskan kesabaran setitik demi setitik, menyuntikkan keberanian, dan melarutkan doa ke dalam segala pahit yang kurasakan. Setiap tetes kecil itu membawaku mendekati warna baru, mendekati momen ketika indikator di dalamku berubah, memberi tanda bahwa aku sudah tak lagi terjebak di pH ekstrem.

Hidup ternyata bukan tentang menemukan larutan yang bisa menetralkan kita. Hidup adalah tentang belajar menjadi indikator: mengenali warna diri, memahami kapan kita sedang berlebihan, dan kapan kita sudah cukup seimbang. Dalam proses panjang ini, aku bukan lagi bejana kosong yang menunggu diisi, melainkan peneliti yang perlahan-lahan menemukan rumus baru: bagaimana bertahan, bagaimana menyembuhkan, dan bagaimana kembali jernih tanpa harus menunggu siapa pun datang membawa botol basa atau asam.

Mungkin titrasi ini belum selesai. Mungkin butuh waktu lebih lama sampai benar-benar netral. Tapi setidaknya sekarang aku tahu: aku tidak lagi sekadar larutan yang pasrah, aku adalah laboratorium itu sendiri—tempat semua reaksi terjadi, tempat luka dan doa berpadu, hingga akhirnya menghasilkan keseimbangan yang benar-benar milikku.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah