Tepian Narosa

Aku duduk di tepian sungai, kaki menggantung santai di atas batu basah, menatap riak air yang kayaknya nggak pernah berhenti main-main sama cahaya senja. Gelombangnya kecil, tapi berisik juga kalau didengar lama-lama. Entah kenapa, aku merasa tiap riak itu kayak ngobrol sama aku, tapi nggak perlu kata-kata. Mereka cuma… ada, tapi terasa penuh maksud.

Di kejauhan, perahu-perahu lewat pelan. Suara dayung yang nyebar di udara itu anehnya bikin tenang, meski sekaligus bikin aku mikir ribet sendiri. Kayak, “Kenapa aku duduk di sini, kenapa perahu itu melaju, kenapa aku selalu mikir begini?” Tapi lucunya, pertanyaan itu nggak harus dijawab. Riak air, dayung, senja… semuanya kayak bilang, “Nggak apa-apa, cukup rasain aja.”

Aku tarik napas panjang. Angin malam nyelonong masuk ke baju, berasa kayak ngingetin kalau bumi ini luas banget dan aku cuma sebutir debu yang lagi duduk santai. Tapi ya, lucunya, malah bikin adem. Ada cahaya lampu dari rumah-rumah di tepian, tembus kabut, bikin refleksi di air kayak lukisan yang nggak bisa ditiru. Aku tersenyum sendiri, sambil berpikir, mungkin ini yang dinamain “kedamaian sederhana”.

Aku nggak menulis untuk siapa-siapa. Tapi entah kenapa, rasanya pengen banget dicatat. Mungkin nanti orang baca, dan mereka ngerti, atau nggak. Tapi nggak masalah. Yang penting aku ngerasain momen ini, kayak lagu lama yang entah kapan kudengar terakhir, tapi terus nyelip di telinga batin.

Dan di antara gelombang, perahu, senja, dan angin malam, aku sadar bahwa kadang hidup itu nggak harus sempurna. Cukup harmonis dalam ketidaksempurnaan. Cukup hadir, cukup ngerasain, cukup senyum sendiri di tepian sungai yang nggak pernah berhenti bergerak.


Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah