Tentang Doa yang Datang dari Ka'bah
Ada satu hal yang akhir-akhir ini sering membuatku tertegun: betapa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian, bahkan ketika semua yang aku andalkan memilih pergi. Seringkali, justru lewat jalan yang tak pernah kuduga, kasih sayang Allah tiba-tiba datang. Bukan lewat keluarga, bukan lewat orang yang kuanggap paling dekat, melainkan lewat orang-orang yang mungkin dulu hanya kutemui sekelebat, atau hanya sekali bertemu dalam sebuah forum.
Beberapa waktu lalu, aku mendapat kabar yang membuat hatiku bergetar. Seorang teman yang kutemui beberapa tahun silam dalam sebuah pelatihan, tiba-tiba menghubungiku. Kami tidak pernah benar-benar dekat, hanya sempat berbagi sedikit cerita kala itu. Aku bahkan menganggapnya hanya “teman sesaat” yang hadir di antara banyak wajah lain dalam sebuah acara.
Tapi rupanya, apa yang pernah kubagi waktu itu tidak benar-benar hilang. Ia masih mengingatku. Lebih dari itu, ketika ia berada di salah satu tempat paling mulia di dunia di depan Ka’bah ia menyebut namaku dalam doanya. Ia meminta kepada Allah agar aku dikuatkan, agar aku dilindungi, agar aku diberi jalan yang baik.
Aku membacanya dengan air mata. Aku bukan siapa-siapa baginya. Aku bukan saudara kandung, bukan sahabat karib, bahkan bukan seseorang yang sering berkomunikasi. Aku hanyalah seseorang yang pernah sekelebat lewat dalam hidupnya. Dan tetap saja, namaku ikut ia bawa dalam doa di hadapan Allah.
Di saat yang sama, hatiku terasa pilu. Sebab orang yang seharusnya berada di sampingku sekarang, orang yang pernah kupercaya untuk berbagi hidup, justru memilih meninggalkanku sendirian. Ketika aku melangkah pulang dari lapak, melihat keluarga-keluarga kecil berjalan bersama anak-anak mereka, aku sempat menangis. “Ya Allah,” bisikku dalam hati, “mengapa orang yang aku sayang setega itu? Bukankah seharusnya sekarang aku ikut bahagia seperti mereka? Bukankah aku sudah memilihnya dengan sepenuh cinta?”
Namun di titik paling rapuh itu, aku juga belajar sesuatu. Allah tidak membiarkan seorang pun benar-benar sendirian. Ketika seseorang yang kucinta memilih pergi, Allah mengirimkan orang lain untuk menunjukkan bahwa aku masih berarti. Kadang lewat tangan seorang teman yang tak pernah kusangka, kadang lewat doa seseorang yang bahkan bukan bagian dari keluargaku.
Aku mulai memahami, mungkin inilah cara Allah mengajarkanku arti cinta yang lebih luas: bahwa kasih sayang tidak selalu datang dari arah yang kita inginkan, tapi selalu hadir dari arah yang kita butuhkan. Bahwa doa yang tulus justru sering datang dari mereka yang tidak terikat oleh kewajiban apa pun, melainkan oleh keikhlasan semata.
Aku menuliskan ini bukan hanya sebagai catatan hati, tapi juga sebagai pengingat bagi diriku sendiri. Bahwa di balik kesepian, selalu ada kasih yang menyelusup lewat celah kecil. Bahwa Allah menenangkan dengan cara-Nya sendiri, dengan menggerakkan hati manusia yang bahkan tidak pernah kuduga.
Untuk temanku yang kini sedang berada di tanah suci, aku hanya bisa mendoakan balik dari jauh. Semoga Allah membalas ketulusanmu berkali lipat. Semoga setiap langkahmu di tanah haram dicatat sebagai amal yang tak terputus. Dan semoga doa-doamu yang kau panjatkan, bukan hanya untukku, tapi juga untuk dirimu dan keluargamu, diijabah oleh Allah dengan cara yang paling indah.
Dan untuk diriku sendiri, semoga aku selalu mengingat bahwa doa adalah hadiah paling mewah yang bisa diberikan seseorang. Karena doa adalah bukti bahwa meski aku merasa sendirian, ternyata namaku masih hidup dalam hati orang lain.
Aku bukan siapa-siapa, tapi tetap ada yang mengingatku di hadapan Allah. Itu sudah cukup untuk membuatku merasa berharga. 🌷

Comments
Post a Comment