Samudra Senja di Ujung Nafas

Di tepi malam yang tak bertepi, aku berdiri sendiri,

Menatap langit yang berat dengan bintang-bintang bisu.

Mereka menatapku, tanpa suara, tanpa pengertian,

Seolah bertanya: apakah aku lelah untuk terus bernapas?

Angin malam membawa aroma kesepian,

Menggigit kulit, menusuk tulang, dan menembus setiap lapisan hati yang rapuh.


Gelombang di pikiranku menghantam satu per satu,

Menyapu kenangan yang dulu manis,

Sekarang hanya pahit dan dingin,

Seolah hidupku hanyalah permainan arus yang tak bisa kutahan.

Aku ingin larut, ingin tenggelam,

Menghilang di samudra yang tak punya tepi,

Tapi kaki ini masih menapak pasir,

Masih terikat pada dunia yang menekan, menipu, dan meninggalkan luka.


Aku ingat wajah-wajah yang pernah kupercaya,

Cinta yang kuharap akan menenangkan, kini berubah menjadi duri.

Pengkhianatan yang mereka tinggalkan menusuk lebih dalam daripada gelombang badai,

Menyisakan rasa sakit yang tak pernah kuharap.

Aku ingin menangis, ingin berteriak,

Tapi air mata ini keras kepala, tertahan seperti batu di dasar laut.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan pecahan kaca di dalam paru-paru,

Setiap napas adalah perjuangan, setiap detak jantung adalah jarum yang menusuk dada.


Aku ingin pergi…

Tapi ada sesuatu yang menahan.

Mungkin sisa cahaya yang tak ingin padam,

Mungkin harapan yang malu-malu muncul di sela luka.

Aku ingin melepaskan semua, semua yang menyesakkan hati,

Tapi bagaimana caranya, ketika dunia ini hanya menonton dari jauh?


Malam menjadi saksi dari segala kegelisahan,

Setiap isak yang tertahan, setiap rindu yang dipenjara, setiap kesedihan yang menumpuk.

Aku ingin larut, larut dalam samudra sepi,

Membiarkan gelombang membawa pergi semua yang menekan,

Meninggalkanku kosong tapi bebas.


Dan di tengah pusaran itu, aku belajar

Bahwa kesakitan yang kubawa bukan untuk menghancurkan,

Tapi untuk mengajarkanku bertahan.

Bahwa meski aku ingin pergi, aku masih hidup,

Masih merasakan, masih berani berdiri di tengah badai.

Setiap luka adalah pelajaran, setiap tangis yang tertahan adalah kekuatan,

Dan setiap hembusan napas adalah bukti bahwa aku masih punya hak untuk ada,

Walau dunia ini seakan menentang, walau gelombang menghantam tanpa ampun.


Aku membayangkan diriku larut dalam malam,

Tapi tetap, meski ingin mati, ada bagian kecil yang masih menuntun aku pulang ke diri sendiri.

Bahwa aku boleh lelah, boleh remuk, boleh menangis,

Tapi aku juga berhak merasakan hidup ini sepenuhnya,

Walau pahit, walau berat, walau terasa seperti tak ada jalan keluar.


Dan ketika fajar perlahan menyelinap di ufuk,

Aku akan tetap berdiri, walau kaki ini gemetar,

Walau hati ini hancur,

Karena aku tahu, dari reruntuhan, dari samudra gelap yang menelanku,

Aku bisa bangkit.

Aku bisa merasakan hidup lagi,

Dan suatu hari, semua gelombang yang pernah menghantamku akan menjadi saksi

Bahwa aku bukan korban,

Aku bukan bayangan,

Aku adalah badai, laut, dan langit sekaligus,

Yang tak bisa ditaklukkan, tak bisa dilupakan, dan tak bisa dihapuskan.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah