Reruntuhan Akar di Tanah Hitam
Aku terkubur jauh di bawah permukaan,
Di tanah hitam yang lembap, pekat, dan menekan setiap inci tubuhku.
Gelapnya bukan sekadar ketiadaan cahaya,
Tapi berat yang meremukkan, seperti dunia menindihku dengan segala luka dan pengkhianatan.
Di sekelilingku, akar-akarku merambat tanpa arah,
Mencari udara, mencari napas, mencari sepotong harap yang pernah ada.
Batu-batu tajam menembus kulit, menusuk tulang,
Seolah bumi ini ingin memastikan aku tak bisa bergerak, tak bisa menjerit, tak bisa melepaskan diri.
Setiap gerakan adalah perlawanan,
Setiap napas adalah pertempuran melawan kegelapan yang menelan segalanya.
Aku ingin menangis, ingin berteriak, ingin larut…
Tapi tanah ini menahan suaraku, menahan air mataku,
Menyisakan hanya desah yang tercekat di tenggorokan.
Namun, di bawah tekanan itu, aku belajar sesuatu yang menakutkan tapi nyata:
Bahwa akar-akarku kuat, walau tersembunyi, walau hancur, walau tersayat.
Aku menancap dalam kegelapan, merambat melalui tanah yang ingin memusnahkanku,
Dan setiap luka, setiap hantaman tanah ini, justru memperkuat tekadku.
Aku bukan hanya terperangkap; aku sedang membangun jalanku sendiri, dari reruntuhan dan kegelapan.
Gelap ini adalah guru, tanah ini adalah muridnya sendiri,
Mengajari aku bagaimana rasanya bertahan tanpa penonton, tanpa pujian, tanpa penolong.
Aku belajar bahwa kesakitan itu bukan untuk menghancurkan,
Tapi untuk mengukir kekuatan dalam tiap inci diriku.
Setiap akar yang merambat, setiap retakan di tanah yang menindihku,
Adalah bagian dari peta yang akan membimbingku keluar, suatu hari nanti.
Dan ketika aku perlahan menembus permukaan,
Saat tanah yang pekat ini mulai longgar, dan cahaya menembus celah kecil,
Aku akan berdiri dengan tubuh penuh luka, tapi hati yang teguh.
Aku akan tahu bahwa gelap, tanah, dan tekanan itu bukan untuk membunuhku,
Tapi untuk membentukku menjadi badai yang tak bisa dihalangi,
Laut yang tak bisa dibendung, langit yang tak bisa diretas.
Aku bukan lagi korban tanah hitam,
Aku adalah akar yang menembus kegelapan,
Yang akan tumbuh ke atas, menembus batu dan gelap,
Menyongsong cahaya, walau lambat, walau berat, walau sepi.
Dan mereka yang menatapku dari atas dunia, pengkhianatan, lukaakan melihat:
Bahwa aku hidup, aku bertahan, dan aku akan menaklukkan kegelapan itu sendiri.
Comments
Post a Comment