Membangun kembali dari Puing-Puing

Ada hari ketika udara terasa terlalu tebal, dan kaki rasanya berat untuk melangkah. Gelombang yang datang tak henti menekan, bisikannya membuat hati ingin melepas segalanya. Aku ingin menutup mata, membiarkan dunia berlalu tanpa aku, tapi ada satu suara kecil yang tetap bersembunyi di antara bayang-bayang: “Kau masih di sini, meski nyaris padam.”

Di lorong-lorong gelap, aku berjalan dengan hati yang hampir lelah. Setiap langkah seperti menimbang antara menyerah dan bertahan. Tapi aku tetap melangkah, meski perlahan, karena ada sesuatu yang tak terlihat sebuah benih kecil yang menahan kehampaan, sebuah titik cahaya yang tak ingin padam.

Mungkin dunia tidak selalu ramah, mungkin luka terus menumpuk, tapi ada ruang di mana aku masih bisa menarik napas, menulis garis kecil untuk diriku sendiri. Tidak semua hari harus terang; tidak semua langkah harus ringan. Namun di tengah kegelapan itu, aku masih bisa memilih untuk berdiri, masih bisa memilih untuk melanjutkan meski nyaris hancur.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah