Di Antara Keluhan dan Nafas Baru
Di Antara Keluhan dan Nafas Baru
Ada masa dalam hidup ketika setiap detik terasa berat. Seolah udara yang masuk ke paru-paru pun bukan oksigen, melainkan kepingan-kepingan debu yang menggores dada. Setiap hari rasanya penuh dengan desah, keluhan, dan bisikan getir yang tak berhenti. Seakan lidah hanya hafal satu bahasa: bahasa luka.
Enam bulan terakhir, aku seperti terseret arus di sungai yang tak mengenal tepi. Ada saat aku ingin berteriak, ingin menendang segala sesuatu di depanku, ingin bertanya keras kepada semesta: “Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?” Tapi suara itu hanya berputar di dalam kepalaku, bergema tanpa jawaban.
Aku sadar, keluhan itu seringkali dicap buruk. Orang akan bilang, “Jangan banyak mengeluh, syukuri saja.” Tapi mereka tidak pernah benar-benar mendengar tangisan di dalam tubuhku. Mereka tidak tahu bahwa setiap keluhan itu lahir dari luka yang belum sembuh. Bahwa setiap desah adalah bukti aku masih mencoba bertahan di tubuh yang hampir patah.
Namun, di tengah segala getir itu, aku mulai belajar. Aku menuliskan keluhan-keluhan itu di selembar kertas. Aku biarkan ia keluar, menjelma huruf-huruf, tak lagi mendekam di dada. Dan di ujung kalimat, aku paksa diriku menambahkan satu baris kecil: sebuah alasan untuk tetap hidup.
“Aku capek sekali. Tapi buktinya aku masih di sini.”
“Aku ingin menyerah. Tapi aku sudah bertahan sejauh ini.”
“Aku merasa kosong. Tapi aku masih punya ruang untuk diisi ulang.”
Pelan-pelan aku paham, keluhan itu bukan racun. Ia adalah sinyal tubuh dan jiwa, tanda bahwa aku butuh ruang bernapas. Sama seperti asam dan basa yang tampak berlawanan, keluhan dan kekuatan ternyata bisa saling menetralkan. Jika kutahan, ia bisa meledak. Tapi jika kuubah arah, ia justru bisa jadi bahan bakar untuk langkah berikutnya.
Hidup ini memang penuh paradoks. Aku pernah merasa karam di laut yang salah, tenggelam dalam gelombang yang tak memelukku. Namun, bukannya mati, aku belajar berenang. Aku belajar bahwa tubuhku diciptakan bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk terus mencari daratan yang benar-benar menerima pijakan kakiku.
Hari ini, aku masih sering mengeluh. Masih sering menangis tanpa sebab. Masih sering merasa kecil, lelah, dan tidak adil. Tapi kini aku tahu: itu bukan aib. Itu adalah bagian dari proses pulang. Pulang bukan ke rumah siapapun tapi pulang ke diriku sendiri.
Dan mungkin, meski dunia tak pernah benar-benar mendengar, aku akan terus menulis. Karena dari keluhan yang kutorehkan, aku perlahan belajar bahwa setiap luka bisa punya arah, setiap tangis bisa punya arti, dan setiap hidup meski penuh debu tetap pantas untuk dijalani.
Comments
Post a Comment