Cerpen: Rumah yang Tak Pernah Ada

 Cerpen: Rumah yang Tak Pernah Ada

Di rumah kecil itu, kursi selalu lebih banyak dari penghuninya. Di meja makan, ada piring yang tak pernah kotor, cangkir kopi yang selalu dingin sebelum disentuh. Aku sering duduk lama, menatap benda-benda mati yang lebih jujur dari manusia. Mereka diam, tapi setia. Tidak seperti dia yang pulangnya selalu ditunggu, tapi hatinya entah tertinggal di mana.

Aku dulu percaya, pernikahan adalah rumah. Tempat pulang, tempat berteduh, tempat jiwaku akhirnya merasa cukup. Tapi kenyataannya, aku hanya menumpang di ruang yang tidak pernah menerimaku. Aku berjalan di lantai itu dengan hati-hati, takut salah pijak, takut napasku terlalu keras, takut tatapanku dianggap salah. Di rumah itu, aku bukan istri. Aku hanya tamu yang diizinkan masuk, tapi tidak pernah dipersilakan duduk.

Hari-hariku penuh keheningan yang berisik. Ia jarang bicara, tapi diamnya lebih menyakitkan dari teriakan. Saat bicara pun, kata-katanya seperti pisau dingin, tumpul, tapi menghantam berkali-kali. Aku bertanya pada diriku sendiri: apakah ini rumah, atau hanya ruang penyiksaan yang dibungkus akad? Aku mendayung perahu itu sendirian. Ia duduk di ujung, menonton aku kelelahan, seolah kesengsaraan ini hiburan baginya.

Sampai akhirnya aku sadar: perahu ini bukan rusak. Memang sejak awal tak pernah ada niat untuk berlayar bersama. Aku hanyalah pemberhentian, pelampiasan, singgahan sebelum ia berlayar menuju pelabuhan lain. Dan yang lebih menyakitkan, aku bukan hanya ditinggalkan, tapi dijadikan kambing hitam.

Kini aku duduk sendiri, tanpa cincin di jari, tanpa janji di telinga. Rasanya seperti tubuhku kehilangan gravitasi melayang, tersesat. Tapi perlahan, aku juga merasakan udara segar yang belum pernah kurasakan: ruang kosong. Ruang yang tidak lagi dipenuhi suara marah, tidak lagi dipenuhi tatapan dingin. Ruang yang menakutkan sekaligus melegakan.

Aku masih sering teringat matanya. Kosong. Seperti sumur gelap yang tidak pernah bisa memantulkan cahaya. Dulu aku mencoba menyelam ke dalamnya, berharap menemukan sumber air yang menyegarkan. Nyatanya, aku hanya hampir tenggelam. Sekarang aku tahu, aku tak kehilangan rumah. Karena rumah itu tidak pernah ada sejak awal.

Dan pelan-pelan, aku mulai membangun rumah baru. Bukan dari dinding bata atau pintu kayu, tapi dari tubuhku yang kucintai lagi, dari kata-kataku yang kutulis setiap malam, dari langkah kecil yang kubawa setiap hari menuju diriku sendiri. Aku pulang, akhirnya bukan ke orang lain, tapi ke rumah sejati: diriku sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah