Patience Is Ugly, But I’m Still Here.


Aku tidak pernah tahu kenapa jalanku selalu terasa berat. Sejak dulu, sejak aku bisa mengingat masa-masa remajaku, sepertinya hidupku tidak pernah berjalan dengan mulus. Dua belas tahun di Pekanbaru, aku bertahan dengan segala cara yang orang lain mungkin tidak akan percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Kadang Aku berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer hanya untuk sampai ke kampus. Aku menjual kerupuk ke warung-warung demi bisa makan. Aku menahan lapar dan hanya minum air putih, tak jarang aku membeli sambal saset dan telor rebus itu yang ku makan pake nasi, mencoba meyakinkan perutku bahwa aku baik-baik saja.

Survival was my middle name.

Aku sering bilang ke diriku sendiri, “One day, things will change. This is only temporary.” Tapi kenyataannya, hari ini di Batam aku kembali dipertemukan dengan pola yang sama. Seolah-olah alam semesta ingin mengulang ujian yang pernah kualami dulu. Bedanya, sekarang aku lebih sadar. Lebih jujur pada luka. Lebih berani mengakui marahku pada Tuhan.

Sudah tiga bulan penuh aku tidak memegang uang, dan tidak kunjung dapat pekerjaan. Aku olahraga dengan fasilitas yang di kasih sama temanku di perumahan dia gratis, sering banget jalan kaki gratis bukan karena tidak ada pilihan tapi harus demi waras hehehe. Dan makan seadanya, kadang ada teman yang berbaik hati memberi aku makanan. It’s like déjà vu. Like a cruel loop that refuses to end.

Dan aku marah. Kadang aku duduk sendiri di kamar dan aku berbisik, “Kenapa aku lagi, Ya Allah? Bukankah sudah cukup lama aku Kau uji dengan kelaparan, dengan kesepian, dengan ketidakpedulian orang-orang di sekitarku?” Ada saat-saat di mana aku benar-benar marah. “God, I’m tired. I’m so tired of surviving. I don’t want to just survive anymore. I want to live.” Tapi anehnya, meski aku marah, aku tetap bangun setiap pagi. Aku tetap bisa bernapas. Aku tetap bisa menulis. Bahkan dalam keadaan kosong, aku tetap punya kata-kata. And words… have always saved me.

Aku belajar bahwa kesabaran bukanlah sesuatu yang indah seperti yang orang sering katakan. Kesabaran itu kadang jelek, penuh luka. Kesabaran itu adalah perut kosong yang dibiarkan berbunyi. Kesabaran itu adalah kaki yang tetap melangkah walau tahu tidak ada tujuan yang jelas. Kesabaran itu adalah tertawa di depan orang lain padahal hati sedang remuk. Patience is not always peaceful. Sometimes patience is ugly. It’s hunger, it’s fear, it’s pretending everything’s fine when you’re dying inside.

Dan aku mulai percaya, mungkin justru kesabaran yang seperti inilah yang paling berharga di mata Allah. Karena ia nyata. Ia tidak berpura-pura. Ia penuh darah dan air mata. Hari-hari belakangan aku merasa rumahku seperti hutan. Sunyi, jauh dari siapa pun. Kadang aku bermimpi berada di rumah di tengah hutan, sendirian, hanya tidur dan memulihkan diri. Dalam mimpi itu aku melihat diriku sendiri tidur, seolah tubuhku terlalu lelah untuk bertemu siapa pun. Healing is lonely. Sometimes the only friend you have is silence. Tapi dalam kesepian itu, aku bertemu diriku sendiri. Aku mulai belajar melihat diriku bukan sebagai orang gagal, bukan sebagai perempuan yang ditinggalkan, tapi sebagai jiwa yang tetap berjalan walau dengan tangan kosong. Every breath I take is a rebellion. Every sunrise I face is proof that I’m still here, unbroken.

Kadang aku masih menangis, masih protes, masih ingin berhenti. Tapi setiap kali aku berpikir “this is the end,” selalu ada sesuatu yang kecil yang membuatku bertahan. Misalnya ketika aku hanya punya 10 ribu rupiah, dan aku berpikir bagaimana caranya bertahan hari ini. Lalu aku membeli nasi saja di warung, dan ternyata itu cukup. It sounds silly, but survival often looks like that small, fragile, but enough. Aku tidak ingin membohongi diriku sendiri. Aku tidak akan mengatakan, “Aku baik-baik saja.” Karena kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Aku sering marah, sering kecewa, sering merasa Tuhan meninggalkanku. Tapi di balik semua itu, aku tetap memilih untuk hidup. Dan mungkin, itu definisi kemenangan yang sebenarnya: not the absence of pain, but the courage to stay alive in the middle of it.

Aku sering membayangkan masa depan. Aku membayangkan suatu hari aku bisa berkata pada diriku yang sekarang: “You made it. You survived. You turned survival into a story, and your story became a bridge for others who are also hurting.” Maybe tomorrow will still be difficult. Maybe the next month won’t change much. But I hold on to one thing: survival itself is already a victory. Aku adalah jiwa yang tidak hilang. Aku adalah tubuh yang masih bernapas. Aku adalah hati yang masih berani mencinta, meski sering dihancurkan. Dan hari itu akan tiba, cinta. Hari ketika aku bisa berkata: aku tidak hanya bertahan hidup… aku benar-benar hidup.

Batam, 2025


Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah