FRAGMEN YANG PERNAH BEREAKSI
Aku tak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada zat lain yang singgah, mengubah komposisiku, lalu pergi meninggalkan residu. Mereka datang seperti reagen yang kualami dalam percobaan: ada yang membuatku meledak, ada pula yang hanya lewat, memberi warna sebentar, lalu memudar.
Aku ingat dia yang seperti asam kuat.
Setiap kali bersamanya, lapisan-lapisan dalam diriku larut sedikit demi sedikit. Ia korosif, membuatku kehilangan bentuk, tapi anehnya aku tetap diam, seolah menerima bahwa pelarutan adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Ada juga dia yang seperti basa lemah. Hadirnya tak pernah cukup untuk menetralkan luka. Ia menenangkan sebentar, tapi hanya meninggalkan rasa samar tak asam, tak basa hanya larutan hambar yang akhirnya menguap begitu saja.
Dan aku tidak bisa melupakan katalis. Singkat, cepat, penuh energi.
Ia datang hanya untuk mempercepat reaksiku menuju sesuatu yang tak bisa dihindari. Bukan untuk tinggal, bukan untuk menyelamatkan, hanya untuk memastikan aku bergerak, meski akhirnya hancur lebih cepat dari seharusnya.
Mereka semua adalah fragmen. Potongan reaksi yang menempel di dinding tabung kehidupanku. Tak satu pun benar-benar tinggal, tak satu pun benar-benar membawa makna utuh.
Hanya meninggalkan bekas samar seperti noda tipis pada kaca laboratorium yang tak pernah bisa hilang meski sudah dicuci berkali-kali.
Dan aku, hingga malam ini, masih mencoba mengingat apakah aku zat pelarut yang salah? atau memang aku sejak awal hanya medium sementara tempat orang lain bereaksi, tanpa pernah jadi unsur penting dalam persamaan mereka?
Comments
Post a Comment