Cerpen : Senyum yang Mengubur Sunyi
Senyum yang Mengubur Sunyi
Elif selalu percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan. Ketika Kerem datang dengan tatapan yang menenangkan, ia merasa dunia akhirnya berpihak padanya. Kerem begitu pandai membuat segalanya tampak sempurna. Tapi perlahan, bayangan itu berubah. Aylin, sahabat yang dulu selalu membela Elif, kini sering berkata, “Kerem cuma mau yang terbaik buat kamu. Kenapa kamu keras kepala?” Selim, rekan kerja, jadi cermin yang terus dihadapkan padanya. “Lihat dia. Kamu harus lebih seperti itu,” kata Kerem dengan senyum tipis. Merve, sepupu sendiri, tak lagi hangat. “Aku dengar kamu sering bikin Kerem kecewa,” ucapnya, seakan mengutip bisikan yang tak pernah Elif dengar langsung. Dan Baran selalu hadir di sela obrolan, membuat Elif merasa kecil. “Kerem butuh pasangan sepadan, bukan beban.”
Empat suara itu, yang seharusnya menjadi lingkar aman Elif, perlahan menjelma lingkar jerat. Kerem tidak pernah membentak, tidak pernah meninggalkan luka di kulit. Tapi setiap kata yang ia tanam melalui orang lain, tumbuh menjadi duri yang merobek jiwa Elif diam-diam.
Hari-hari Elif berubah jadi ruang hampa. Ia berjalan, ia tersenyum tipis, ia menjawab percakapan seadanya. Namun di dalam dirinya, ia hanya mendengar gema satu kalimat yang tak pernah hilang “Kamu tidak cukup.” Orang-orang melihat Elif setiap hari: duduk di samping Kerem, menunduk, tersenyum seperlunya. Namun tak ada yang sadar bahwa sedikit demi sedikit, dirinya telah hilang.
Sampai suatu pagi, kursi favoritnya di perpustakaan kosong. Buku catatannya tergeletak, terbuka pada halaman terakhir: sebuah coretan samar, “Aku sudah selesai.” Kerem tetap tersenyum. Aylin, Selim, Merve, dan Baran pun masih memuji kebaikannya. Hanya Elif yang tidak lagi ada entah di mana.
Dan dunia tetap menganggap Kerem pasangan sempurna.
Comments
Post a Comment