Cerpen: Sekolah Tanpa Cermin

Cerpen: Sekolah Tanpa Cermin

Ada sebuah sekolah yang dindingnya penuh tulisan bijak. Setiap hari murid-murid mengulang slogan yang sama, seakan itu doa. Semua tampak tertib, semua berjalan lurus, semua seperti sudah tahu jawabannya sejak awal. Di sana, satu suara selalu jadi penentu. Bukan karena suara itu lantang, tapi karena semua suara lain dipadamkan dengan kalimat manis: “demi kebaikan bersama.” Lama-lama, guru-guru di sekolah itu terbiasa tersenyum meski tak benar-benar setuju. Murid-murid terbiasa mengangguk meski hatinya masih bertanya-tanya. Sekolah itu terlihat ideal dari luar seperti bangunan yang dipoles cat baru. Tapi dari dalam, lorong-lorongnya terasa dingin. Ada pelajaran tentang disiplin, ada pelajaran tentang kesabaran, tapi satu pelajaran selalu absen: empati.

Konon, pemimpin sekolah itu pernah melewati ujian panjang dalam hidupnya. Ia menanti, ia menimbang, lalu suatu hari ia mendapatkan apa yang dicarinya. Orang-orang menyebutnya bukti keikhlasan. Mereka menceritakannya sebagai kisah bahagia. Dan memang, di mata kebanyakan orang, ia teladan. Ramah, sederhana, penuh wibawa. Namun, bagi mata yang lebih dekat, ada celah yang tak bisa ditutup cat. Ia pandai mengatur, tapi jarang mendengar. Ia pandai memberi aturan, tapi tak pandai memberi ruang hati. Sekolah itu pun perlahan menjadi cermin kabur. Dari luar tampak berkilau, dari dalam hanya memantulkan wajah yang sama berulang kali. Tidak ada ruang bagi warna lain. Aku sering bertanya, mungkinkah sebuah sekolah berjalan tanpa benar-benar mengajarkan rasa? Mungkinkah kesempurnaan bangunan justru menyembunyikan retakan yang sebenarnya lebih penting diperhatikan?

Barangkali itulah pelajaran tersembunyi: jangan sampai kita sibuk menghafal kebaikan, tapi lupa menghidupkan kebaikan itu sendiri. Sebab sekolah tanpa cermin hanya akan melahirkan murid yang bisa menjawab soal, tapi tak pernah belajar menjadi manusia.

Profil Diri Penulis

Zahira Aluna (1994) adalah nama pena seorang guru yang aktif  menulis. Ia mengusung gaya reflektif, penuh emosi, dan menyelipkan data aktual untuk menguatkan narasi. Tulisan-tulisannya lahir dari pergulatan batin sekaligus kepedulian sosial. Aluna percaya, setiap cerita memiliki daya untuk menyembuhkan dan menyadarkan.


Batam, 2025

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah