Bising Itu Viral, Hening Itu Bertumbuh

Ada banyak orang di negeri ini yang memilih belajar dalam diam. Mereka membaca buku sendirian di kamar kecilnya, menyalin catatan sampai larut malam, atau mengulang video pembelajaran berkali-kali tanpa ada yang tahu. Tidak ada kamera yang merekam, tidak ada penonton yang bersorak. Yang ada hanya ketekunan yang sunyi, seperti tetes hujan yang pelan tapi pasti menumbuhkan benih.

Namun, di permukaan, yang terlihat justru hal-hal yang berbeda. Kita lebih sering disuguhi potongan-potongan viral: orang yang berteriak, yang nyentrik, atau yang membuat heboh dengan tingkahnya. Bukan salah siapa-siapa, mungkin memang begitulah hukum dunia maya: yang berisik lebih mudah terdengar daripada yang tekun dalam diam.

Fenomena ini tidak serta-merta buruk, hanya menunjukkan bahwa sorotan publik kadang tidak sejalan dengan kerja keras yang tersembunyi. Ada banyak ilmuwan muda, penulis pemula, atau pelajar gigih yang memilih menaruh karyanya di laci, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Mereka seperti akar yang tumbuh di bawah tanah: tidak terlihat, tapi merekalah yang menopang batang pohon agar tetap berdiri.

Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, sebab setiap orang punya panggungnya sendiri. Ada yang memang lahir untuk menjadi sorotan, ada yang lebih nyaman menjadi penopang dari belakang layar. Dunia memerlukan keduanya. Hanya saja, alangkah indah jika kita juga mulai melirik pada mereka yang bekerja dalam senyap. Mereka yang mungkin tidak masuk berita utama, tidak viral di linimasa, tapi perlahan mengubah hidup entah hidupnya sendiri, keluarganya, atau bahkan bangsa ini.

Mungkin suatu hari nanti, orang-orang yang belajar dalam diam itu akan muncul ke permukaan. Tapi meski tidak, ketekunan mereka tetap berharga. Karena sejatinya, cahaya tidak selalu butuh panggung; kadang ia hanya perlu menyinari jalan, meski tanpa nama.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Aliran Darah yang Tak Pernah Usai

Bara yang Dingin di Tanah Madinah