Aku, Rimba, dan Kesunyian
Aku, Rimba, dan Kesunyian
Angin yang berembus dari celah-celah hutan selalu terasa lebih jujur ketimbang obrolan basa-basi manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan ranting-ranting tua yang memeluk langit, aku merasa dimengerti. Tak ada yang menuntutku untuk bicara, tersenyum, atau menjelaskan siapa diriku. Hanya ada aku dan semesta yang sunyi namun hidup.
Aku tumbuh seperti lumut di bebatuan: diam,
lembap, tapi bertahan. Tidak semua orang melihatnya indah, tapi ia tetap tumbuh
meski tak pernah disorot. Itulah aku. Seorang introvert yang sering
disalahpahami sebagai dingin, padahal hanya terlalu hangat menyimpan dunia
sendiri di dada.
Di kota, aku bagai daun kering yang ditiup
keramaian. Tapi di alam, aku adalah akar yang tak terlihat, kuat, dan
berpegangan pada keheningan. Aku tidak suka sorotan lampu, tapi aku mencintai
cahaya mentari pagi yang menyelusup pelan lewat sela dedaunan.
Aku bicara dengan burung dan sungai, menulis pada
kabut dan senja. Mereka tak menjawab, tapi aku tahu: mereka mendengarkan.
Ketika orang lain merasa sepi dalam kesendirian,
aku justru menemukan kedamaian. Karena aku tahu, sunyi bukan musuhku. Ia adalah
sahabat yang membentukku. Yang membuatku melihat, merenung, lalu perlahan menyembuhkan.
Aku mungkin tak pandai bicara di keramaian. Tapi
jika kau datang ke rimba tempatku biasa duduk, mungkin kau akan mengerti:
kesunyian bisa lebih hangat daripada sorakan dunia.
Dan menjadi introvert bukan tentang menghindari
dunia. Tapi memilih sudut tenang, agar aku bisa mencintai dunia tanpa
kehilangan diriku sendiri.
Comments
Post a Comment