LUKA

 

Dalam semesta molekul, aku belajar bahwa kehancuran tidak selalu datang dengan satu pola. Ada racun yang hadir sebagai api yang menjilat langit, menghancurkan struktur dari luar hingga ke inti. Namun, ada pula yang menyusup dalam sunyi tak berwarna, tak berbau, namun perlahan menghentikan detak jantung jiwa.

​Aku pernah terperangkap dalam dua ikatan yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki sifat korosif yang menghancurkan struktur dasar kemanusiaanku.

​1. Oksidasi si Api

​Dia datang sebagai reaksi eksotermik yang liar dan tak terkendali. Kehadirannya bukan sekadar kebisingan, melainkan radiasi panas yang menuntut seluruh ruang. Dia adalah narsisme yang sombong; suaranya lantang, tangannya kasar, dan egonya meluap seolah-olah dia adalah isotop paling berat yang menjadi pusat semesta.

​Namun, ia tidak hanya membakar permukaan. Ia melakukan penetrasi jauh ke dalam nukleus jiwaku. Bersamanya, aku bukan sekadar logam yang dipaksa melebur, melainkan materi yang dipaksa luruh hingga ke akar-akar atomnya. Ia menghancurkan dasar-dasar harga diriku, mengikis kepercayaan diri yang kubangun bertahun-tahun, hingga aku merasa tak lagi memiliki massa atau volume. Aku habis. Aku menjadi residu tak berbentuk di bawah kaki kekuasaannya.

​Luka darinya adalah entalpi panas yang nyata merah, perih, dan menghancurkan batin sampai ke titik nol absolut. Aku tahu dia berbahaya karena lidah apinya mencambuk batin dan fisikku setiap hari tanpa jeda, menyisakan abu dari jati diri yang dulu pernah berdiri tegak. Dia adalah kehancuran yang jujur dalam kekejamannya, sebuah ledakan yang memastikan tidak ada sel saraf pun yang tersisa tanpa rasa trauma.

​2. Karbon Monoksida Si Racun

​Namun, ada sosok lain yang lebih purba. Dia tidak meledak, dia tidak berteriak. Dia justru tampil sebagai wujud yang paling tenang dan penuh kesantunan. Bicaranya lembut, geraknya melambat dimakan usia, namun di balik itu, dia adalah Karbon Monoksida (CO).

​Gas ini mematikan justru karena ia berselimut kesunyian. Ia menyusup lewat narasi masa lalu tentang "kandang kambing" dan "kemiskinan yang heroik", seolah-olah penderitaan adalah sebuah medali yang memberinya hak untuk menjajah ruang napas orang lain. Ia menggunakan sejarahnya sebagai inhibitor untuk menghentikan seluruh energiku.

​Setiap kali aku ingin bereaksi untuk tumbuh, ia mengikat hemoglobin jiwaku dengan rantai rasa bersalah. Ia membisikkan manipulasi dengan nada suara yang paling rendah: "Aku sudah berkorban hingga tak punya apa-apa, bagaimana mungkin kamu merasa paling terluka?"

​Ia adalah narsisme yang samar, yang tidak memukul fisikku, namun mematikan sinyal-sinyal logika di kepalaku. Ia membandingkan penderitaannya dengan lukaku seolah-olah hidup adalah sebuah neraca analitik yang harus selalu menempatkan dirinya sebagai "korban nomor satu". Di penghujung waktunya, ia justru membuang seluruh elemen berharganya kepada yang lain, membiarkan tabung reaksiku kosong merana tanpa sisa, sambil tetap mengharapkan aku tersenyum di bawah tekanan.

​Reaksi Pemisahan

​Lama aku bertanya-tanya, kenapa aku bisa bertahan dalam dua ikatan yang beracun ini? Jawabannya ada pada afinitas. Karena aku tumbuh di atmosfer penuh Karbon Monoksida sejak masa kecilku, paru-paru mentalku menjadi terbiasa dengan rasa sesak yang dianggap "bakti". Aku menganggap racun yang samar itu sebagai udara normal, hingga akhirnya aku bertemu dengan Bara Api yang menghanguskanku sampai ke akar.

​Tapi kini, aku sedang melakukan proses dekantasi. Aku sedang memisahkan diriku dari endapan-endapan masa lalu yang keruh. Aku akhirnya menyadari bahwa penderitaan masa lalu seseorang (kandang kambing atau apa pun itu) tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk merusak struktur molekul kebahagiaanku saat ini.

​Aku tidak lagi ingin menjadi reaktan yang pasif di laboratorium orang lain. Aku memilih untuk menjadi unsur mandiri. Aku akan melakukan sublimasi. Aku akan berubah wujud, melampaui tekanan atmosfer yang menghimpit ini, dan terbang menuju ruang di mana aku bisa bernapas tanpa harus merasa bersalah karena telah memilih untuk hidup.

Comments

Popular posts from this blog

FILM SISA YANG BERLAYAR

Bara yang Dingin di Tanah Madinah

Memahami Skizofrenia, Dampaknya, dan Jalan Menuju Pemulihan